BBKK Surabaya Wilker Tuban Perkuat Kesiapsiagaan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat melalui Table Top Exercise (TTX) di Lamongan
LAMONGAN, 29 Oktober 2026 — Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya bersama Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Tanjung Pakis menyelenggarakan kegiatan Table Top Exercise (TTX) Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (KKM) di Samudra Hall, Tanjung Kodok Resort, Kabupaten Lamongan, Kamis (29/10).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan kapasitas respons, serta membangun sinergi lintas sektor dalam menghadapi potensi ancaman penyakit menular dan kedaruratan kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah pelabuhan sebagai salah satu pintu masuk negara.
Kegiatan dibuka oleh Kepala KSOP Kelas III Tanjung Pakis yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh C. Metropolitan Jaya, S.H., M.M., M.Mar.E., selaku Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli. Kegiatan ini melibatkan 32 unsur lintas sektor, baik secara langsung maupun daring, yang terdiri atas instansi pemerintah, otoritas pelabuhan, TNI/Polri, dinas kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, serta unsur perusahaan pelayaran dan pemangku kepentingan terkait lainnya.
Melalui keterlibatan berbagai pihak tersebut, kegiatan TTX diharapkan mampu memperkuat kesamaan pemahaman mengenai pembagian peran, alur koordinasi, mekanisme komunikasi, serta pengambilan keputusan dalam menghadapi situasi kedaruratan kesehatan masyarakat.
Dalam sesi pemaparan materi, BBKK Surabaya menyampaikan perkembangan situasi penyakit serta pengantar pelaksanaan Table Top Exercise sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan di pintu masuk negara.
Selain narasumber dari BBKK Surabaya, kegiatan ini juga menghadirkan dr. Yany Khoirurakhmawati, M.MRS., Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan, yang memaparkan situasi penyakit menular dan berbagai potensi ancaman kesehatan di wilayah Kabupaten Lamongan. Paparan tersebut menjadi dasar penting dalam meningkatkan kewaspadaan sekaligus memperkuat kesiapan respons lintas sektor terhadap penyakit menular yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa maupun wabah.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi peran serta pelaksanaan simulasi berbasis skenario kedaruratan kesehatan masyarakat. Melalui metode ini, para peserta diajak untuk memahami situasi yang mungkin terjadi, mengidentifikasi langkah penanganan, menentukan peran masing-masing instansi, serta menguji efektivitas koordinasi dan pengambilan keputusan.
Pelaksanaan TTX sekaligus menjadi sarana untuk mengevaluasi kesiapan dan implementasi Rencana Kontinjensi yang telah disusun bersama para pemangku kepentingan sejak tahun 2021. Dengan demikian, berbagai potensi kendala, kesenjangan prosedur, maupun kebutuhan penguatan sistem respons dapat diidentifikasi sebelum menghadapi kejadian kedaruratan yang sesungguhnya.
Kegiatan ini mendapatkan apresiasi positif dari para pemangku kepentingan dan unsur lintas sektor yang terlibat. Para peserta menilai bahwa simulasi semacam ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman, kesiapan personel, serta koordinasi antarinstansi ketika menghadapi ancaman penyakit menular yang berpotensi berkembang menjadi wabah.
Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 beberapa waktu lalu juga menjadi pembelajaran penting mengenai perlunya sistem kewaspadaan dini, komunikasi yang efektif, dan respons cepat serta terkoordinasi. Kesiapsiagaan yang dibangun sejak dini dinilai menjadi salah satu kunci dalam meminimalkan risiko penyebaran penyakit dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Dalam evaluasi kegiatan, muncul harapan agar pelaksanaan TTX dapat ditindaklanjuti dengan simulasi lapangan atau field exercise. Simulasi secara langsung dinilai penting untuk memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai kesiapan petugas, ketersediaan sarana dan prasarana, alur komunikasi, serta efektivitas prosedur penanganan kedaruratan kesehatan masyarakat dalam kondisi operasional sebenarnya.
Melalui tahapan latihan yang berkelanjutan, mulai dari diskusi berbasis skenario hingga simulasi lapangan, diharapkan seluruh pemangku kepentingan semakin siap menghadapi berbagai kemungkinan ancaman kesehatan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun yang berpotensi masuk melalui perjalanan dan transportasi internasional.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya penguatan kapasitas inti pintu masuk negara sesuai dengan International Health Regulations (IHR) 2005, yang menekankan pentingnya kemampuan deteksi dini, pencegahan, pelaporan, dan respons terhadap kejadian kesehatan masyarakat yang berpotensi menyebar lintas negara.
BBKK Surabaya berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai latihan semata, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat komitmen, meningkatkan kesiapan operasional, dan membangun sistem respons kedaruratan kesehatan yang semakin tangguh.
Dengan kesiapsiagaan yang optimal, koordinasi lintas sektor yang solid, serta kemampuan deteksi dan respons yang cepat, pintu masuk negara diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit menular, sehingga risiko terjadinya wabah berskala luas hingga pandemi dapat diminimalkan.
Sinergi lintas sektor menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan pintu masuk negara yang aman, sehat, dan tangguh demi melindungi kesehatan masyarakat.

